Berita

Cegah Stunting Sejak Dini: Begini Kondisi Tumbuh Kembang Balita di Desa Kedunggading

Kedunggading—Stunting masih menjadi tantangan serius bagi tumbuh kembang anak di Indonesia, tak terkecuali di Desa Kedunggading. Berdasarkan data e-PPGBM (Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat) bulan April 2026, prevalensi stunting di Kabupaten Kendal masih berada di angka 12,15%, sehingga dibutuhkan upaya yang lebih optimal dan terarah untuk mempercepat penurunannya, termasuk di tingkat desa.

 

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2016), stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, yang dapat dimulai sejak dalam kandungan dan mulai terlihat dampaknya hingga anak berusia dua tahun.

Kondisi di Desa Kedunggading

Dari hasil pengukuran status gizi yang dilakukan secara berkala terhadap 196 balita di Desa Kedunggading, tercatat 37 balita teridentifikasi mengalami stunting, atau setara 18,9% dari total balita yang diukur. Angka ini menunjukkan bahwa hampir 1 dari 5 balita di desa mengalami hambatan pertumbuhan.

Status Gizi Jumlah Balita Persentase
Gizi Normal 159 81,1%
Stunting 37 18,9%
Total Diukur 197 100%

Sebaran Stunting per Dusun

Data kasus aktif per dusun (Juni 2026) menunjukkan sebaran yang bervariasi di lima dusun:

Nama Dusun Jumlah Balita Balita Diukur Jumlah Stunting Jumlah Ibu Hamil Bumil Risiko Tinggi
Dusun Kedungwungu 33 33 6 9 4
Dusun Tapak Timur 51 51 12 0 0

Dusun Tapak Barat

35 35 6 5 2
Dusun Gading 27 27 4 2 1
Dusun Cabean 50 50 9 10 5

Sebaran stunting tertinggi berada di Dusun Tapak Timur dengan 12 balita, sementara yang terendah berada di Dusun Gading dengan 4 balita. Selain data balita, desa juga mencatat adanya ibu hamil dengan risiko tinggi di beberapa dusun, yang memerlukan perhatian khusus karena erat kaitannya dengan potensi stunting pada anak yang dikandung.

Mengenali Tanda-Tanda Stunting

Menunjuk pada Kementerian Kesehatan, berikut ciri-ciri anak yang perlu diwaspadai sebagai indikasi stunting:

- Tinggi badan di bawah standar (TB/U), tubuh anak lebih pendek dibanding anak seusianya. Ini adalah ciri paling khas dari stunting.

- Pertumbuhan tulang tertunda, usia tulang anak lebih muda dari usia sebenarnya, biasanya terlihat dari pertumbuhan tinggi badan yang lambat.

- Berat badan rendah untuk usianya, berat badan berada di bawah rata-rata anak seusianya, menjadi tanda kekurangan gizi.

- Proporsi tubuh tampak lebih muda/kecil, anak tidak terlihat kurus, namun ukurannya lebih kecil dari teman seusianya karena pertumbuhan yang tertahan sejak dini.

Langkah Bersama Cegah Stunting

Ketahanan pangan yang baik membantu masyarakat memperoleh gizi yang cukup, bergizi, dan berkelanjutan. Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan keluarga dan masyarakat:

  1. Cukupi gizi 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), sejak masa kehamilan hingga anak berusia 2 tahun.
  2. Berikan ASI Eksklusif 6 bulan penuh tanpa makanan pendamping.
  3. Terapkan gizi seimbang sesuai panduan Isi Piringku.
  4. Aktif membawa balita ke Posyandu setiap bulan untuk pemantauan tumbuh kembang.
  5. Hindari pernikahan dan kehamilan di usia terlalu muda, karena berisiko tinggi terhadap kesehatan ibu dan janin.

Diperlukan peran aktif keluarga dan masyarakat dalam mendukung tumbuh kembang anak agar terhindar dari stunting. Melalui program Rembuk Stunting Desa Kedunggading, seluruh elemen masyarakat diajak bergotong royong mewujudkan target Zero Stunting pada tahun 2026.

 

Sumber data: e-PPGBM April 2026 (Kabupaten Kendal); Data Kasus Aktif per Dusun, Juni 2026, Desa Kedunggading. Artikel dan infografis ini disusun oleh Deta Agesti Setyo Ayu dari Tim KKN Undip 2026.

Share :